PINTU UKIRAN BALI
DEKSRIPSI
Pintu Bali adalah jenis pintu tradisional yang berasal dari pulau Bali, Indonesia. Pintu ini memiliki ciri khas yang unik dan estetis, yang mencerminkan keindahan seni dan budaya Bali. Desainnya biasanya sangat dekoratif dan dihiasi dengan ukiran rumit, motif geometris, atau lukisan tradisional Bali.
Pintu Bali umumnya terbuat dari kayu yang dipilih dengan hati-hati, seperti kayu jati atau kayu merbau, yang kuat dan tahan lama. Kayu-kayu ini kemudian diukir dengan tangan oleh pengrajin yang terampil, menghasilkan detail dan ornamen yang rumit.
Motif-motif yang sering dijumpai pada pintu Bali meliputi bunga, daun, burung, naga, dan dewa-dewi dalam mitologi Bali. Motif-motif ini memiliki makna dan simbolisme yang dalam dalam kepercayaan dan budaya Bali.
Pintu Bali juga sering dihiasi dengan aksen logam, seperti paku atau hiasan besi tempa, yang menambahkan keindahan dan kekuatan pada desain pintu. Beberapa pintu Bali juga dilengkapi dengan panel kaca atau kisi-kisi kayu yang memungkinkan cahaya masuk ke dalam ruangan.
Selain keindahan visualnya, pintu Bali juga memiliki fungsi praktis sebagai pintu masuk ke rumah atau bangunan. Pintu ini sering digunakan pada rumah tradisional Bali, kuil, atau hotel dan vila dengan tema Bali. Pintu Bali memberikan sentuhan budaya dan estetika khas Bali, menciptakan suasana yang indah dan eksotis.
Dengan detail ukiran yang rumit, motif yang bermakna, dan keindahan estetika yang kuat, pintu Bali menjadi bagian penting dari identitas seni dan budaya Bali. Mereka memancarkan pesona dan keunikan pulau ini, dan telah menjadi daya tarik bagi wisatawan dan penggemar seni di seluruh dunia.
PINTU GEBYOG BALI
DEKSRIPSI
"gebyog" adalah jenis pintu tradisional yang berasal dari Bali, Indonesia. Pintu gebyog merupakan elemen arsitektur tradisional Bali yang sering ditemukan di rumah-rumah adat atau bangunan bersejarah.
Pintu gebyog biasanya terbuat dari kayu yang kuat dan diukir dengan detail yang rumit. Desainnya mencerminkan keindahan seni dan budaya Jawa. Pintu ini umumnya memiliki ukiran geometris, motif tanaman, hewan, atau figur-figur mitologis yang melambangkan keberuntungan dan simbolisme dalam kepercayaan Masyarakat Bali.
Pintu gebyog sering dianggap sebagai pintu yang sakral dan memiliki makna filosofis. Pada upacara pernikahan adat Bali, pintu gebyog digunakan sebagai gerbang untuk memasuki ruang pengantin. Pintu ini juga sering dianggap sebagai simbol keharmonisan, persatuan, dan kelimpahan dalam budaya.
BALE BALI
PROSES PEMASANGAN
BALE RANJANG SAKA 4
BENTUK ORNAMEN
DEKSRIPSI
Bale Bali adalah salah satu bentuk arsitektur tradisional Bali yang digunakan sebagai tempat pertemuan atau tempat berkumpul dalam kegiatan sosial, budaya, dan adat. Bale Bali biasanya terletak di pekarangan rumah adat atau di tempat-tempat umum seperti pura (kuil) atau desa.
Bale Bali memiliki bentuk atap pelana yang khas, terbuat dari bahan alami seperti kayu dan alang-alang. Konstruksi bangunan ini didukung oleh tiang-tiang kayu yang kuat dan dihiasi dengan ukiran-ukiran Bali yang indah dan rumit.
Fungsi Bale Bali bervariasi, tergantung pada konteks dan lokasinya. Di desa-desa, Bale Bali digunakan sebagai tempat rapat atau pertemuan komunitas, tempat untuk mengadakan upacara adat, acara seni dan budaya, atau sebagai tempat beristirahat dan bersantai. Di pura, Bale Bali digunakan untuk penyimpanan peralatan upacara, tempat penyelenggaraan pertunjukan seni, atau sebagai tempat bertemu para pendeta dan pemimpin agama.
Bale Bali menjadi simbol penting dalam budaya Bali, mewakili kebersamaan, keharmonisan, dan keramahan orang Bali. Keberadaannya juga mencerminkan adat dan tradisi yang kuat di Bali serta menjadi sarana untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Bali yang kaya dan unik.
Asta Kosala Kosali
Astakosala-kosali adalah prinsip atau ajaran dalam kebudayaan Bali yang mengacu pada delapan tindakan moral atau perilaku yang dianggap baik dan dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini berasal dari kitab Asta Kosala Kosali yang merupakan panduan etika dan moral dalam agama Hindu di Bali. Astakosala-kosali terdiri dari dua kata, yaitu "asta" yang berarti delapan, dan "kosala-kosali" yang merujuk pada perilaku atau tindakan. Delapan tindakan moral yang ditekankan dalam Astakosala-kosali adalah:
Sarasamuscaya: Memiliki tekad yang kuat dan konsisten dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
Satyam: Memiliki kejujuran, kebenaran, dan integritas dalam berbicara dan bertindak.
Akrodha: Menjaga kesabaran, mengendalikan amarah, dan tidak mudah marah.
Kshama: Memiliki sikap pengampunan dan kesediaan untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Dhriti: Memiliki keteguhan, ketabahan, dan keberanian dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.
Daya: Memiliki rasa simpati, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Arjava: Menjaga kejujuran, kesederhanaan, dan ketulusan dalam sikap dan perilaku.
Mitahara: Menjaga keseimbangan dan porsi dalam mengonsumsi makanan dan minuman.
Perhitungan Usuk yang di pasang di Bale Bali tidaklah sembarangan, harus memenuhi perhitungan antara lain:
Sri sangat baik diperuntukan dan digunakan untuk perhitungan usuk/iga-iga pada bangunan Jineng
Werdi sangat baik diperuntukan dan digunakan untuk perhitungan usuk/iga-iga pada bangunan Menten/Meten
Naga sangat baik diperuntukan dan digunakan untuk perhitungan usuk/iga-iga pada bangunan Angkul-angkul
Hyang sangat baik diperuntukan dan digunakan untuk perhitungan usuk/iga-iga pada bangunan Sanggah (tempat suci), Paon.
Mas sangat baik diperuntukan dan digunakan untuk perhitungan usuk/iga-iga pada bangunan Petengahan
Perak sangat baik diperuntukan dan digunakan untuk perhitungan usuk/iga-iga pada bangunan Tempat Berjualan
perhitungan ini tidak mengikutsertakan pada bidang Pemucu dan Pemade
Perhitungan pada Likah di ranjang bale juga harus memenuhi persyaratan dan ketentuan dalam membuat ranjang, ketentuan tersebut antara lain:
Likah: Likah, Wangke dan Wangkong. Untuk Likah harus memenuhi pada perhitungan Likah.
Galar: Galar pada ranjang bale memiliki perhitungan Galar, Galir dan Galur. Untuk Galar harus memenuhi pada perhitungan Galar.